oleh

Desa Kota Daro II, Jadikan Kawasan Pengembangan Rumput Raja Untuk Pakan Ternak Sapi

OGAN ILIR, OGANILIR.CO-Budidaya rumput raja kini mulai dikembangkan di kawasan Desa Kota Daro II Kecamatan Rantau Panjang Kabupaten Ogan Ilir, sebagai salah satu mengatasi ketersediaannya pakan ternak sapi secara berkesinambungan.

Hasilnya, Sabtu, 19 November 2022 dilakukan panen raya perdana diatas lahan seluas 200 m2 dengan menghasilkan produksi segar sebanyak 34,28 ton/ha/satu kali panen atau 239,99 tpn/ha/tahun.

Seperti apa proses pengembangannya ? Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sriwjaya (Unsri) yang diketuai Dr. Ir. Yakup, M.S, dibantu para anggotanya Dr. Muhakka, S.Pt., M.Si., Dr. Afnur Imsya, S.Pt., M.P dan Dr. Ir. Abdul Madjid, M.S serta beberapa mahasiswa melakukan kegiatan pengabdian pada masyarakat di Desa Kota Daro II Kecamatan Rantau Panjang Kabupaten Ogan Ilir, mengenai proses pengembangan budidaya rumput raja .

Desa Kota Daro II merupakan salah satu desa dari 12 desa yang ada di Kecamatan Rantau Panjang Kabupaten Ogan Ilir, luas wilayah sekitar 1.214 Ha, sebagian besar wilayahnya lahan basah, meliputi lahan sawah, lahan lebak pematang, lahan lebak sedang, dan lebak dalam.

Warga Kota Daro II mengikuti pelatihan pengembangan rumput raja untuk pakan ternak

Penduduk Kota Daro II, tercatat sebanyak  2.350 jiwa atau sekitar  650 kepala keluarga (KK), sebagian besar  mata pencarian utamanya sebagai peternak sapi.

Ini bisa dilihat dari populasi ternak sapi di Desa Kota Daro II mencapai 456 ekor  (67,06%) dari 680 ekor sapi yang ada di Kecamatan Rantau Panjang. Jenis ternak lain yang ada seperti ternak kambing 150 ekor, domba 56 ekor, ayam buras 2.273 ekor, itik pegagan 1.436 ekor dan entok 250 ekor, sedangkan kerbau hanya sekitar 20 ekor yang tersebar di berbagi desa di Kecamatan Rantau Panjang.

“Ternak sapi ini milik kelompok peternak Harapan Maju I, yang berjumlah anggotanya 20-25 orang. Mereka melakukan pembibitan dan penggemukan sapi,  baik dilakukan sendiri atau bersama-sama,’’kata Dr. Muhakka, S.Pt., M.Si.

Namun kata Muhakka, usaha mereka ini  acapkali menghadapi kendala  penyediaan hijauan pakan terutama pada kondisi musim kemarau, namun sebaliknya dimusim penghujan  rumput alam berlimpah ruah.

“Inilah yang kami lakukan  dengan  introduksi rumput unggul seperti rumput raja melalui pengembangan budidaya pada saat musim kemarau, dengan harapan ketersedian pakan secara berkesinambungan baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga produksi ternak meningkat’’ujar Muhakka.

Dijelaskan Muhakka, rumput raja dengan nama latin Pennisetum purpuphoides atau lebih dikenal dengan nama King grass. Rumput raja merupakan hasil persilangan antara rumput gajah (Pennisetum purpereum) dengan Pennisetum typhoides.

“Rumput raja mudah dikembangkan, bila dikelola dengan baik dan pemupukan secara intensif, mampu memproduksi mencapai 1.076 ton/ha/tahun. Dan dapat ditanam dengan dua cara yaitu stek dan pols (sobekan rumpun) yang berumur sekitar delapan bulan, semakin tua semakin baik (10 bulan), panjang stek sekitar 25-30 cm atau terdiri dari 2 buku dan 3 ruas dengan jarak tanam 70 x 70 cm. Rumput raja dapat dipanen (dipotong/defoliasi) 60 hari setelah tanam (HST). Kemudian defoliasi berikutnya 40 hari sekali pada musim hujan dan 60 hari sekali pada musim kemarau dan rata-rata rumput raja dapat dipanen/dipotong 7 kali setahun dan dapat berproduksi hingga 10 tahun,’’jelas Dosen Fakultas Pertanian (FP) Unsri ini.

Lebih lanjut Muhakka mengatakan,  keunggulan rumput raja ini, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan rumput gajah, produksinya tinggi, produksi segar bisa 40 ton/ha/satu kali panen,

“Untuk kandungan nutrisinya lebih baik, kandungan protein kasarnya bisa mencapai 18,67% sedangkan rumput gajah hanya sekitar 10%. Bisa dipanen pada usia muda, 60 HST atau setelah tingginya mencapai 1 meter. Memiliki serat kasar 33,38% yang berfungsi sebagai sumber serat (energi) untuk ternak ruminansia, sangat disukai ternak (palatabilitasnya tinggi) khususnya ternak sapi, berumur panjang (perenial), rumpun, tegak, dan tingginya bisa mencapai 4 meter dan , produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan rumput gajah, menjadikan rumput raja banyak digunakan sebagai pakan dalam usaha penggemukan ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, dan domba),’’lanjutnya.

Masih kata Muhakka, agar pengembangan budidaya rumput raja bisa berkelanjutan sebagai pakan ternak, timnya memberikan pelatihan kepada kelompok peternak Harapan Maju I dan warga yang ada di Desa Kota Daro II, yang berlangsung Sabtu, 10 September 2022  dan Sabtu 19 November 2022 bertepatan dengan panen raya rumput raja .

“Kami memberikan materi, berkaitan dengan budidaya rumput raja, mulai dari pemilihan lokasi sampai dengan panen dan teknologi pengawetan, pengolahan tanah, pemupukan, jenis-jenis pupuk yang diberikan baik sebagai pupuk organik maupun pupuk an organik.’’tutupnya (sid)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lain-nya