oleh

Sudah Dilaporkan Ke Polda, Eh… Malah Damai. Sengketa Lahan PT GON vs Oki

OGAN ILIR, OGANILIR.CO.-Batas “Umur” Pengaduan ke Polda Sumsel atas sengketa lahan antara Oki Widiastuti  pemilik lahan seluas 8 hektar di Desa Sungai Rambutan Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir,  dengan PT Golden Oilindo Nusantara (GON), yang diduga perusahaan tersebut melakukan penyerobotan tanah, ternyata  belum seumur jagung.

Lho kok ? Sebab per 21 September 2022 lalu sudah terjadi perdamaiaan kedua belah pihak, pengaduannya ke Polda Sumsel tertanggal 25 Agustus 2022, artinya belum satu bulan genap sudah “Saling berjabat Tangan”.

“Tertanggal 21 September 2022 lalu sudah terjadi perdamaian kedua belah pihak, antara Oki dengan PT GON melalui Decardo Saiful selaku Direktur Utama PT GON,’’kata Kuasa Hukum Oki, yakni Yofi Efrizal SH dan Patners, Selasa ,27 September 2022.

Yofi mengatakan, meski sudah terjadi perdamaian kedua belah pihak, namun pihaknya belum menerima secara tertulis laporan pencabutan pengaduan ke Polda Sumsel,’’ Upaya pencabutan laporan pengaduan ke Polda Sumsel , secara resmi belum kami terima, karena proses administrasinya butuh waktu,’’ujarnya

Namun lanjut Yofi,  dalam proses perdamaian tersebut, Decardo selaku pihak pertama dan Oki selaku pihak kedua  telah terjadi kesepakatan  yang mereka tempuh.

Yakni pertama pihak pertama mengakui telah menguasai tanah di sekitar PKS Pihak Pertama (sebagian di sisi kiri dan kanan jalan masuk PKS) selanjutnya disebut tanah sengketa dengan alas hak yang diawali dengan penguasaan berdasarkan Akta Pengoperan Hak sebelum tahun 2015, surat keputusan PTUN dan juga Akta Perjanjian Jual Beli dengan Susanto Nursewan yang masih SHM tahun 1987 yang dibeli oleh Pihak Pertama sebelum putusan PTUN pada tahun 2017.

“Lalu  Kedua juga mengakui telah menguasai tanah sengketa berdasarkan Surat Pengakuan Hak tahun 2017 yang telah didaftarkan di Kantor Kepala Desa Sungai Rambutan dan Kecamatan Indralaya Utara,’’lanjut Yofi.

Kemudian  ketiga,  atas klaim masing-masing pihak tersebut maka Pihak Kedua telah melaporkan permasalahan tersebut ke Mapolda Sumsel sebagaimana Laporan Polisi Nomor LE/B/527/V111/2022/SPKT/POLDA SUMATERA SELATAN tanggal 25 Agustus 2022.

“Point Ke 4. para pihak tidak menghendaki permasalahan ini diselesaikan secara hukum karena dipastikan akan merugikan PARA PIHAK karena masing-masing pihak mempunyai alas hak yang masing-masing keabsahannya harus dipertanggungjawabkan di hadapan hukum baik secara perdata maupun pidana. demikian juga Pihak Kedua juga menghendaki hal yang sana sehingga PARA PIHAK sepakat untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan cara musyawarah,’’kata Yofi.

Soal apakah  perdamaian kedua belah pihaknya, ada konpensasi terhadap lahan seluas 8 hektar yang disengketakan? Sejauh ini Yofi tidak mengetahui, dan tidak sejauh itu mencampuri urusan kedua belah pihak.’’Intinya mereka berdamai secara musyawarah,’’tukasnya .(sid)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lain-nya